English
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
PT. Sinarmas Asset Management meraih delapan penghargaan sebagai Reksa Dana Terbaik 2017 dari Majalah Investor. Produk yang mendapatkan penghargaan adalah Reksa Dana Danamas Dollar, Danamas Stabil, Simas Income Fund dan Danamas Fleksi

Edukasi

  Strategi Alokasi Aset
  NAB (Nilai Aktiva Bersih)
  Manajer Investasi
  Bank Kustodian
  Agen Penjual
  Prospektus
  Unit Penyertaan
  Mengenal Reksa Dana
  Bentuk Hukum Reksa Dana
  Karakteristik Reksa Dana
  Jenis-jenis Reksa Dana
  Keuntungan Berinvestasi pada Reksa Dana
  Risiko Investasi Reksa Dana
______________________________________________________________________________________________________

Strategi Alokasi Aset

Strategi alokasi aset adalah salah satu strategi dalam investasi untuk memperoleh imbal hasil (return) yang optimal dengan mempertimbangkan tingkat resiko yang akan di dapat. Metode alokasi asset berpedoman pada pembentukan "base policy mix" atau komposisi dasar portofolio. Base policy mix ini merupakan kombinasi berbagai asset secara proposional berdasarkan tingkat imbal hasil yang diharapkan (expected return). Contohnya, jika saham secara historis memberikan imbal hasil sebesar 20% per tahun sedangkan obligasi memberikan imbal hasil 10% per tahun, maka portofolio dengan komposisi 50% saham dan 50% obligasi dapat diharapkan memberikan imbal hasil (expected return) per tahun sebesar 50% x 20% + 50% x 10% = 15%.

  Kembali ke Atas

NAB (Nilai Aktiva Bersih)

NAB (Nilai Aktiva Bersih) Adalah nilai pasar yang wajar dari suatu Efek dan kekayaan lain dari Reksa Dana dikurangi seluruh kewajibannya. Metode penghitungan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana dihitung dan diumumkan pada setiap Hari Bursa.

  Kembali ke Atas

Manajer Investasi

Manajer Investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola Portofolio Efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  Kembali ke Atas

Bank Kustodian

Bank Kustodian adalah Pihak yang memberikan jasa penitipan kolektif dan harta lainnya yang berkaitan dengan Efek, seperti saham dan obligasi. Bank Kustodian juga melakukan peran administrasi seperti menagih hasil penjualan, menerima deviden, penyelesaian transaksi penjualan dan pembelian, serta menyajikan laporan atas seluruh aktifitas transaksi nasabahnya. Pihak yang dapat melaksanakan kegiatan usaha sebagai Kustodian adalah Perusahaan Efek, atau Bank Umum yang telah mendapat persetujuan dari Bapepam.

  Kembali ke Atas

Agen Penjual

Pihak yang berkompeten (mempunyai izin WAPERD) yang ditunjuk oleh Manajer Investasi untuk memasarkan reksa dana kepada investor.

  Kembali ke Atas

Prospektus

Adalah setiap pernyataan yang dicetak, yang digunakan untuk Penawaran Umum Reksa Dana dengan tujuan memberikan informasi kepada calon pemodal / pembeli Unit Penyertaan Reksa Dana, informasi berdasarkan peraturan BAPEPAM dan LK.

  Kembali ke Atas

Unit Penyertaan

Unit Penyertaan adalah satuan ukuran yang menunjukkan bagian kepemilikan unit dalam portofolio investasi kolektif.

  Kembali ke Atas

Mengenal Reksa Dana

Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu untuk memantau investasinya. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas seputar pasar modal. Selain itu Reksa dana diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27) :
Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi”. Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan Manajer Investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut. Pada reksa dana, Manajer Investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam "Nilai Aktiva Bersih" (NAB) reksa dana tersebut. Kekayaan reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada Bank Kustodian yang tidak terafiliasi dengan Manajer Investasi, dimana Bank Kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administrasi.

  Kembali ke Atas

Bentuk Hukum Reksa Dana

Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1), bentuk hukum Reksa dana di Indonesia ada dua, yakni Reksa dana berbentuk Perseroan Terbatas dan Reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

1. Reksa dana berbentuk Perseroan.
Reksa Dana Perseroan Terbatas adalah Reksa Dana yang dibentuk dengan mendirikan Perseroan Terbatas. Investor Reksa Dana jenis ini juga merupakan pemegang saham Reksa Dana yang bersangkutan. Sampai dengan saat ini, Bapepam telah memberikan izin usaha Reksa Dana berbentuk Perseroan sebanyak 2, yaitu kepada :
  a. PT BDNI Reksa Dana (tertutup).
  b. PT Reksa Dana Perdana Tbk
2. Kontrak Investasi Kolektif (KIK).
Kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor. Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio efek dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan administrasi investasi.

  Kembali ke Atas

Karakteristik Reksa Dana

Berdasarkan karakteristiknya maka reksa dana dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Reksa Dana Terbuka (Open End).
Adalah reksa dana yang dapat dijual kembali kepada Perusahaan Manajer Investasi yang menerbitkannya tanpa melalui mekanisme perdagangan di Bursa efek. Harga jualnya biasanya sama dengan Nilai Aktiva Bersihnya. Sebagai informasi, sebagian besar reksa dana yang ada saat ini adalah merupakan reksa dana terbuka.
2. Kontrak Investasi Kolektif.
Kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor. Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio efek dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan administrasi investasi.

  Kembali ke Atas

Jenis-jenis Reksa Dana

1. Reksa Dana Pendapatan Tetap.
Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola dalam bentuk efek bersifat utang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.
2. Reksa Dana Saham.
Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelolanya dalam efek bersifat ekuitas.
3. Reksa Dana Campuran.
Reksa dana yang dapat melakukan investasi pada efek bersifat utang, ekuitas dan pasar uang. Dengan mempunyai perbandingan target aset alokasi pada efek saham dan pendapatan tetap yang berbeda.
4. Reksa Dana Pasar Uang.
Reksa dana yang investasinya pada efek bersifat hutang dengan jatuh tempo yang kurang dari satu tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.
5. Reksa Dana Terproteksi.
Reksa Dana Terproteksi, memiliki fitur khusus adanya proteksi (namun bukan jaminan) terhadap nilai pokok investasi awal. Reksa Dana terproteksi umumnya dikategorikan sebagai investasi risiko rendah hingga menengah dan umumnya digunakan untuk tujuan investasi jangka panjang. Dalam berinvestasi di reksa dana Terproteksi, umumnya investor harus berkomitmen untuk suatu jangka waktu investasi tertentu untuk mendapatkan manfaat proteksinya misalnya 2 atau 3 tahun tergantung dari portofolio produk yang bersangkutan.

  Kembali ke Atas

Keuntungan Berinvestasi pada Reksa Dana

1. Dikelola oleh Manajer Investasi yang Profesional.
Pengelolaan portofolio suatu Reksa dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.
2. Diversifikasi Investasi.
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.
3. Transparansi Informasi.
Reksa dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya secara berkelanjutan sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau pergerakan dari NAB Reksa Dana tersebut. Pengelola Reksa dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan Fund Fact Sheet setiap bulannya serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.
4. Likuiditas yang Tinggi.
Investor dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksa Dana, sehingga Reksa Dana tersebut dapat dikatakan sangat liquid.
5. Biaya Rendah.
Karena reksa dana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.
* Biaya transaksi akan menjadi lebih tinggi, jika Investor melakukan transaksi secara langsung di bursa.
6. Potensi pertumbuhan nilai investasi.
Reksa Dana adalah kumpulan dana dari pemodal yang dikelola secara terarah dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga dengan akumulasi dana tersebut, Reksa Dana memiliki daya tawar (bargaining power) yang lebih baik dalam memperoleh instrumen investasi yang sulit jika dilakukan secara individual. Hal ini memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan untuk memperoleh hasil investasi yang relatif baik sesuai tingkat risikonya.
7. Kemudahan bertransaksi.
Pemodal dapat melakukan investasi secara langsung di pasar modal/uang, tanpa melalui prosedur dan persyaratan yang rumit.

  Kembali ke Atas

Risiko Investasi Reksa Dana

1. Risiko Menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan.
Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksa dana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi pada Reksa Dana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya sebagai akibat dari situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.
2. Risiko Likuiditas.
Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi pada suatu reksadana apabila pemegang Unit Penyertaan reksa dana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Sehingga membuat Manajer Investasi harus melakukan pencairan portofolio reksa dana tersebut, dalam kondisi luar biasa (force majure) maka penjualan kembali dapat dihentikan untuk sementara sesuai dengan ketentuan dalam Kontrak Investasi kolektif dan peraturan BAPEPAM dan LK.
3. Risiko Pasar.
Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami kenaikan ataupun penurunan yang disebabkan oleh naik / turunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi. Keadaan pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga - harga saham atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga. Sebailknya, pasar akan mengalami bullish, apabila harga saham / obligasi / pasar uang lainnya mengalami kenaikan harga. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mempengaruhi NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksa Dana.
4. Risiko Default.
Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.
5. Risiko perubahan politik, ekonomi dan peraturan perpajakan.
Perubahan kondisi politik, ekonomi dan peraturan perpajakan serta peraturan-peraturan lainnya khususnya pada pasar uang dan pasar modal nasional maupun internasional dapat mempengaruhi nilai NAB per unit yang dimiliki oleh Pemegang Unit Penyertaan Reksa Dana.
6. Risiko fluktuasi nilai tukar dan tingkat suku bunga.
Investasi yang dilakukan pada Reksa Dana dapat mengalami kenaikan atau penurunan nilai sebagai akibat dari fluktuasi pada nilai tukar antara Rupiah Indonesia dan mata uang asing; maupun suku bunga antara investasi Rupiah Indonesia dan non Rupiah juga dapat menyebabkan perubahan / fluktuasi nilai investasi pada potofolio yang diinvestasikan oleh Manajer Investasi, sehingga pada hasil akhirnya memberi perubahan pada nilai NAB.

  Kembali ke Atas

 


NAB Harian


Update Terakhir : 21/6/2017

Reksa Dana Pasar Uang
Danamas Rupiah Plus -
NAB Return YTD
1,243.4718 2.20 %
Reksa Dana Pendapatan Tetap
Danamas Stabil -
NAB Return YTD
2,986.6697 3.21 %
Simas Danamas Mantap Plus
NAB Return YTD
2,285.0040 3.24 %
Danamas Dollar
NAB Return YTD
1.6635 1.29 %
Simas Danamas Instrumen Negara
NAB Return YTD
1,852.1911 7.06 %
Danamas Pasti +
NAB Return YTD
3,095.8640 2.89 %
Reksa Dana Campuran
Simas Syariah Berkembang +
NAB Return YTD
1,187.3497 2.10 %
Simas Satu
NAB Return YTD
6,276.8120 6.39 %
Danamas Fleksi -
NAB Return YTD
3,520.5056 3.36 %
Simas Satu Prima +
NAB Return YTD
1,375.4700 7.30 %
Reksa Dana Saham
Simas Syariah Unggulan
NAB Return YTD
866.9605 -7.21 %
Simas Danamas Saham
NAB Return YTD
1,879.7234 9.32 %
Simas Saham Unggulan +
NAB Return YTD
1,415.2233 0.36 %
Simas Saham Bertumbuh -
NAB Return YTD
1,232.7414 8.24 %
Simas Saham Maksima
NAB Return YTD
1,061.8187 11.99 %

Suku Bunga

Update Terakhir : 28/6/2017
 LPS USD 0.75 % 
 BI Rate 6.5 % 
 LPS IDR 6.25 % 
 SBI 6.550 % 
 Deposito 6.1 %